Bergegas Menuju Allah


Supir Saya

Kita tidak mengenal Allah. Itu yang menyebabkan kita tidak menyambut kedatangan-Nya. tidak di shalat fardhu, dan lebih tidak lagi di shalat tahajjud. Beruntunglah orang-orang yang tahu bahwa Allah itu selalu datang. Datang dengan segala karunia-Nya, datang dengan segala pertolongan-Nya.

Untuk kemudahan berkendaraan, Allah karuniakan saya supir. Saya tidak menganggap supir saya ini lebih rendah dari saya. Malah saya seringkali membesarkan hatinya, bahwa kemana saya ceramah, maka dia dapet juga pahala kebaikannya. Asal dia mau membaca basmallah dan berdoa agar amalan ceramah saya, pun ia dapatkan.

Namun, ketika saya tidak mendapati supir saya tepat waktu, tidak kurang saya pun suka terbersit rasa kesal. “Bagaimana sih? Udah tahu mau jalan, koq malah ga ada?” begitu saya berpikir.

Di satu waktu, saya memberitahu supir saya, agar dia standby langsung di depan lobi satu tempat, sebab sudah akan jalan lagi ke tempat yang lain. Dan saya sudah wanti-wanti dengan sangat. Yang demikian itu, agar tidak jadi hambatan bagi perjalanan saya. Tapi rupanya dia tidak mengindahkan. Begitu saya keluar, dia tidak ada. Begitu saya telpon, katanya sedang ngantar saudara saya ke depan jalan utama, mencari taksi. Saya marah, namun, bersabar rasanya lebih baik. Karena saya tidak bisa menunggu lebih lama, saya bilang sama dia, saya naik taksi saja juga dah. Dan dia saya suruh pulang. Ada suara bersalah di ujung seberang HP sana. Namun saya tidak mau berlama-lama lagi. Saya tutup telponnya dan saya segera mencari taxi. Sebelum taxi yang saya pesan, sampe, supir saya sudah datang dan meminta maaf.

Sekarang saya sadar, bahwa selama ini saya sering mengecewakan Allah, Tuhan saya yang sudah demikian baik kepada saya, kepada keluarga saya, kepada semua manusia. Dan sekarang saya membiarkan Allah menunggu saya…

Saya tidak dapat membayangkan, andai yang mengucapkan kalimat: “Tunggu ya Pak!”, adalah supir saya. Ya, ketika saya perlu dia, dia lalu mengatakan itu. Lebih konyol lagi kalo dia bilang, Pak, kalo ga sabar, silahkan saja naik taxi ya. Saya makan dulu… (???!!!). Wuih, saya tidak dapat membayangkan, apa yang saya akan lakukan terhadap supir saya itu.

Lebih lagi saya tidak mampu membayangkan jika saya lah yang menjadi supir buat majikan saya. Saya harus selalu standby buat majikan saya. Lalu kenapa kita tidak pernah siap siaga untuk Allah, Tuhan kita?

Disebut siap siaga bila kita selalu stel panca indera kita. Kita, menjadi weker, atau alarm, untuk diri kita sendiri. Selalu waspada setiap waktu shalat datang. Syukur-syukur bila kita mau menjaga wudhu kita. Jadi, ga perlu mengantri ketika saat shalat datang. Makin cepat kita datang kepada Allah, rasanya hidup kita akan didahulukan ketimbang orang-orang yang selalu telat datangnya. Makin kita bergegas menuju Allah, menyambut Allah, doa-doa kita pun akan semakin cepat dikabul, masalah-masalah kalau datang cepat selesainya, hajat kalau ada bisa Allah segerakan pencapaiannya. Tapi apa boleh buat. Selama ini kita menyadari bahwa sama yang namanya shalat, kita jarang mementingkannya.

Romantisme Bertauhid

Allah, Yang Maha Perkasa, selalu mendatangi kita. Disambut tidak disambut, dilayani tidak dilayani, dengan Kasih Sayang-Nya, DIA selalu hadir di kehidupan kita. Lantaran tidak mengenal-Nya, kita lalu menjadi manusia-manusia yang kehilangan momen berharga bertemu dengan Pemilik Dunia ini. Subhaanallaah.

Masih seputar supir saya, alangkah manisnya bila kemudian ketika saya keluar dari satu tempat, dia sudah standby dengan mobil yang AC nya sudah dingin menyebar ke seluruh kabin mobil. Lebih lega lagi saya kalau kemudian mobil itu bersih luar dalem dan wangi. Tambah bangga saya, kalau kemudian ia turun dari mobilnya, lalu dengan sopannya membukakan pintu mobil untuk saya.

Saya seperti raja, he he he. Tapi ya, sehari-hari saya tidak demikian. Ini kan cerita “alangkah manisnya”. Bukan yang sebenarnya. Tapi logika ini mau dipakai untuk menunjukkan kesiapan kita dan kesopanan kita terhadap Allah. Ternyata, jauh sekali dari yang semestinya.

Mestinya, jangan Allah yang menunggu kita. Tapi kita yang menyambut kedatangan Allah. Kita sudah siap siaga sebelum datangnya waktu shalat. Kita sudah siap siaga sebelum muadzdzin mengumandangkan azannya.

Bagi yang mengingat masa-masa pergi haji atau umrahnya, koq bisa ya kalo di tanah suci kita melangkahkan kaki kita ke masjid, jauh sebelum azan? Bahkan ada yang tidak beranjak dari masjidil haram atau masjidin nabawi, memilih untuk menunggu datangnya waktu shalat yang lain.

Coba diprogram hidup kita, dengan menyetel ulang jadwal ibadah kita. Mari kita sambut Allah. Jangan biarkan lagi kita yang ditunggu Allah.

Syukur-syukur kita mau menyambut Allah dengan pakaian yang lebih bagus ketimbang kita menemui manusia. Kalaupun tidak, siapkan wewangian khusus untuk menyambut Allah yang kita pakai hanya ketika menghadap-Nya. Kita kemudian tegakkan shalat-shalat sunnah. Kita datang sebelum waktu azan… Duh, indahnya…

Saya kadang suka iseng membayangkan, Allah turun dengan Malaikat-Malaikat Pengiring-Nya. Allah memasuki masjid dengan Anggun-Nya, penuh Wibawa, penuh Pesona. Lalu saya menoleh ketika Allah datang, lantaran saya sudah di dalam masjid duluan. Lalu Allah tersenyum kepada saya dan saya katakan, saya sudah di sini ya Allah. Saya sudah di sini.

Begitulah. Asli. Candaan iseng, bayangan iseng ini, senang sekali saya bayangkan. Sehingga hati ini senang betul mengambil air wudhu untuk tajdiidul wudhu (memperbaharui wudhu). Saya ingin Pencipta saya senang bahwa saya betul-betul mengabdi pada-Nya. Saya belum mampu mengabdi banyak, ya dengan cara beginilah dulu. Tampil di muka ketika shalat. Subhaanallaah.

Begitu pun ketika masa shalat tahajjud. Ketika saya terbangun, saya bayangkan bahwa Allah yang membangunkan saya. DIA berada di samping saya, dan membangunkan saya dengan penuh Kelembutan dan Kasih Sayang-Nya. Masya Allah. Bertentangan tentu memvisualkan hal-hal seperti ini. Tapi inilah saya. Romantisme bertauhid dengan Allah menjadi sangat nyata buat saya.

Ketika saya pedengerkan keluhan saya, saya bercerita kepada yang melebihi sahabat dekat saya. Saya perdengarkan keluhan-keluhan saya tentang kejadian-kejadian hidup yang saya lewati, detail, pelan-pelan. Pakai bahasa sehari-hari dengan tetap memperhatikan kesantunan, adab, kesopanan layaknya saya bicara dengan Tuhan Pemilik Alam ini. Tapi ya itu, visualisasi bahwa saya sedang bercengkrama dengan-Nya, saya usahakan betul, agar Allah hadir di hati saya.

Dalam suasana sentimentil, misalnya sedang marah, sedang kecewa, sedang sangat senang, atau sedang sangat sedih, biasanya manusia sanggup bercengkerama dengan Allah. Rahasianya barangkali karena hatinya dihadirkan untuk berdioalog dengan Allah. Semoga kita bisa senantiasa menyambut Allah dan bermesra-mesraan dengan-Nya. Kendalikan perasaan dengan memprogramnya. Sehingga kapanpun, romantisme bertauhid bisa senantiasa kita rasakan. Kepada-Nya lah semua urusan dikembalikan. Kita berdoa terus agar Allah berkenan memperkenalkan diri-Nya kepada kita dan kita bisa mengenal-Nya. Amin.

Materi kuliah ini didownload dari    www.kuliahonline.wisatahati.com

Perihal S'Jamil
Pertama-tama saya adalah seorang anak manusia. Kemudian saya adalah seorang suami, kemudian seorang ayah. Namun tetap saya adalah seorang anak manusia, meski sudah menjadi seorang suami dan seorang ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: