Sungguh, Allah itu Teramat Dekat


Tanggal 30 Agustus 2008, diselenggarakan pertemuan tatap muka (kopi darat) antar-peserta, pengelola web, dan saya. Tapi saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Peserta KuliahOnline yang datang di pertemuan kemaren sore sebab saya harus keluar dari pesantren.

Subhaanallaah, saya berdoa semoga semuanya menikmati sajian Allah di dalam kehidupan pesantren yang mereka berada di dalamnya. Ketika saya memonitor lewat handphone, terdengar suara asaatidz pondok beserta para santri yang mengaji surah al Waaqi’ah yang mudah-mudahan diikuti oleh semua Peserta KuliahOnline. Maghrib dan isya juga dilakukan di pesantren bersama-sama dengan para calon Penghafal al Qur’an yang dibina di Daarul Qur’an.

Saya meminta maaf tidak bisa menjamu kawan-kawan semua dengan sempurna sebab ketidakhadiran saya. Sungguhpun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi tetap saja semua beranggapan kurang asem garem. Sebab sayanya tidak hadir. Padahal biasanya kan memang juga tidak hadir, he he he. Namanya juga KuliahOnline, he he he. Dan saya kira, sebab-sebab yang begini inilah kemudian dicari sistemnya dalam sistem Online. Sesuatu pelajaran dan atau pengajian yang digelar tanpa kehadiran fisik. Alhamdulillah, acara kemaren sore berjalan juga satu dua misi. Di antaranya mempertemukan peserta KuliahOnline dengan tim IT WebOnline dan juga bertemunya para peserta KuliahOnline satu sama lainnya dari berbagai entitas dan daerah. Dan saya kira ini adalah salah satu manfaatnya juga. Apalagi mereka bisa makan makanan pondok. Sesuatu yang barangkali jarang-jarang terjadi bagi sebagian yang lain.

Waba’du, saya udah usahakan untuk hadir. Ketika saya tetapkan tanggal 30, sesungguhnya itu juga adalah doa buat bayi saya. Saya berharap Allah subhaanahuu wata’aala memulangkan bayi saya di siang harinya. Biar kedatangannya di sore hari di rumah bisa disambut para santri, asaatidz dan tamu-tamu istimewa saya; peserta KuliahOnline. Saya undang juga beberapa komunitas Wisatahati di sana, seperti Peserta Pesantren Riyadhah, Peserta Kuliah Tatap Muka nya Wisatahati yang sempat diselenggarakan (sementara udah ditutup), dan beberapa simpul donatur. Ternyata Kehendak Allah lain. Saya masih bersama bayi saya. Dan malah saat itu, terjadi hal-hal yang sungguh akhirnya saya malah pulang ke rumah jam 23.30!!! saya harus memainkan peranan sebagai ayah yang baik, suami yang baik, anak yang baik, mantu yang baik, pimpinan pondok yang baik, bahkan kawan yang baik bagi seorang kawan yang mau bunuh diri pada malam itu! Wuah, komplit. Saya berdoa kepada Allah agar peserta KuliahOnline yang datang kemarenan bersilaturahim diberikan keberkahan tersendiri sebab kedatangannya ke tempat yang banyak sekali amal di dalamnya (pesantren).

Alhamdulillah, di situasi-situasi seperti ini (full-traffic) akhirnya Allah mengizinkan KuliahOnline ini berjalan. Salah satu manfaatnya adalah ketidakterbatasannya waktu. Bagi yang tidak bisa mengakses harian, ia bisa mengumpulkan dalam beberapa hari. Baru kemudian diikuti materinya dalam hitungan sekali belajar sekian materi. Namun saran saya, akan tidak efektif rasanya belajar seperti itu. Itu kan sama saja saudara belajar di SMP-SMU tapi ga masuk-masuk. Sekalinya masuk, di beberapa hari menjelang ujian saja. Luangkanlah waktu Saudara. Insya Allah apa yang Saudara pelajari dan apa yang Saudara akan pelajari, bermanfaat untuk kehidupan saudara dan keluarga saudara. Apalagi bila saudara berkenan sedikit repot dengan membagi pelajaran-pelajaran yang saya bagikan ini kepada orang lain. Insya Allah akan bertambah-tambah banyaklah amal kebaikannya. Dan itu pun, kalau Saudara berkenan membagi-bagikan pelajaran, dicicil juga. Jangan dikasihkan sekaligus. Saya khawatir. kalau dikasihkan sekaligus, akan menjadi bacaan biasa. Tidak merupakan kuliah berseri yang akan membentuk kepribadian. Haus ya haus. Tapi ya biasa aja. Biar ga kembung, he he he. Sementara tetap ada banyak yang bertanya, kenapa sih engga dibuka aja kanal-kanal materi lain? Kan materi-materi itu juga bisa dicicil belajarnya? Engga. Saya bertahan untuk memberikan kuliah-kuliah fundamental ini. Dan saya berdoa agar semuanya diberi kesabaran.

Tentang kejadian bayi saya, ada cerita menarik yang saya akan tuliskan sebagai esai kuliah mendatang. Saya menulis ini habis shubuh. Subhaanallaah, sebelum tahajjud saya sempat bermain dengan Muhammad Kun Syafi’i, kakaknya Muhammad Yusuf al Haafidz bayi saya. Kun baru berusia 1 tahun 1 bulan. Dia sudah punya adik lagi, he he he. Produktif ya. Saya menyempatkan berbagi tengokan. Kadang ke pesantren di Bulak Santri. Kadang ke pesantren di Ketapang. Dua tempat yang merupakan karunia buat negeri ini. Di keduanya berkumpul santri-santri yang menghafalkan al Qur’an untuk disebarluaskan lagi ke seantero buminya Allah.

Di edisi mendatang, Kekuasaan dan Keajaiban Allah di bayi saya, mudah-mudahan menjadi pengajaran buat kita bahwa Allah itu memang patut diyakini Keberadaan-Nya dan ga boleh lagi ada keraguan! Sungguh, Dia ada banget-banget. Ga jauh-jauh dari kita. Bahkan di surah al Waaqi’ah yang kemaren Peserta KuliahOnline baca bersama para santri, ada bahagian ayat yang berbunyi: “Dan Kami sesungguhnya teramat dekat dengan kalian, tapi kalian tidak bisa melihat”.

Tapi sebelum saya jadikan kondisi bayi saya dan apa yang terjadi di seputaran waktu terakhir-akhir KuliahOnline ini saya selangkan sebagai materi kuliah, kita bahas dulu materi kuliah sambungan yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bismillah ya. Kita berdoa terus agar Allah semakin memperkenalkan diri-Nya dengan diri kita dan semakin sayang kepada kita, sungguhpun kita sering menyakiti-Nya, sering mengecewakan-Nya, sering bertanya tentang Pertolongan dan Kuasa-Nya, dan sering mengeluhkan tentang rizki-Nya di saat mestinya Dia marah dengan kelakuan kita. Subhaanallaah astaghfirullah.

Oh ya, kali ini istimewa. Saya sajikan langsung 5 esai kuliah yang mestinya saya bagi menjadi 5 esai kuliah buat 5 hari ke depan. Sebelum meneruskan menyiapkan esai hari ini, saya sempatkan membaca imel-imel yang masuk, pertanyaan-pertanyaan yang masuk, ke meja redaksi. Mudah-mudahan kebijakan saya yang sudah saya langgar ini (mestinya tetap esai ringan per pertemuan, dan berlangsung terus menerus selama 41 hari), menjadi sebuah percepatan yang diridhai Allah. Adapun maksud dan tujuan saya adalah sekaligus sebagai bekal masuk ke bulan suci Ramadhan (sewaktu esai ini dinaikkan, adalah satu hari menjelang tanggal 1 Ramadhan, web admin). Memang kuliah ini bukan kuliah khusus tentang Ramadhan, tapi perkara tauhidnya sangat-sangat terkait dengan Ramadhan. Kalaupun tidak terkait, kelak ia akan terkait juga. Harapan saya, agar Ramadhan ini menjadi bulan penuh support dari Allah dalam upaya kita mencari diri-Nya.

Ok, mari kita pelajari 5 esai berikut ini.

***

Bercanda Dengan Allah

Ketika kita dilanda kesusahan,

“bercandalah” dengan Allah.

Seberapa percayanya kita sama Allah? Ini yang menjadi pertanyaan tauhid dan iman kita pada-Nya. Allah akan bekerja sesuai dengan kepercayaan kita pada-Nya. Memang kadang sesuatu berjalan “seperti” tidak sesuai kepercayaan kita pada-Nya. Tapi yakinlah, kita akan kaget sendiri manakala kita teguh berdiri pada apa yang kita yakini.

Tahun 1999, saya lepas dari penjara kepolisian. Sebab ada perjanjian tidak tertulis (damai), bahwa unsur pidana akan dihilangkan jika saya menerima kasus ini betul-betul dijadikan kasus perdata. Saya menerima. Padahal saat itu, untuk menerima kasus ini, berat. Saya tidak berada langsung di balik kasus ini. Ini kasus saya yakini sebagai kasus-kasus istidraj. Istidraj ini artinya dimainkan Allah. Kita punya salah di jalan A, tapi Allah hidangkan kesusahan ketika kita berjalan di jalan B. Maka kasus ini saya terima, dengan pertimbangan mudah-mudahan Allah memaafkan kesalahan saya di tempat lain yang barangkali hukumannya adalah ini.

Tapi efek dari penerimaan ini, saya bilang di atas, berat. Apalagi untuk kondisi saya saat itu. Saya harus membayar 86 juta rupiah dalam waktu hanya 1 bulan. Kalau tidak, maka kasus ini dinaikkan lagi, dan terus berlanjut sampe ke LP. Dan saya “diwajibkan” untuk menyerahkan diri sendiri tidak perlu dijemput petugas. Begitu.

Kondisi saya saat itu, sebagaimana saya ceritakan dalam buku “Mencari Tuhan Yang Hilang”, bener-bener minus. Keluarga nyerah. Sebab emang 86 juta itu bahagian dari hutang 1 milyaran yang harus saya bayar. Kawan-kawan juga pada minggir semua. Ga ada. Kemudian bayangan bakal kebayar, ga bakal ada. Boro-boro buat bayar, buat ongkos pulang dari kantor kepolisian menuju rumah transitan (saya belum bisa pulang sebab satu dua hal saat itu) saja saya bingung. Dan setelah pulang nanti, makan apa, pakai pakaian apa, saya bingung.

Saudara-saudaraku peserta KuliahOnline. Kondisi saya saat itu parah. Pakaian, hanya selembar. Bener-bener hanya selembar. Selama 14 hari saya di dalam tahanan, saya tidak ganti baju! Dan tentu saja saya tidak pakai lagi celana dalam, maaf. Duh, hampir nangis nih saya nulis ini. Tapi saya ga bisa nangis. Sebab sambil saya nulis ini, saya sambil jagain si abang Kun (putra ketiga saya yang masih berumur 1 tahun 1 bulan tadi), dan sesekali jawab-jawab sms dari TV dan dari kawan-kawan pondok yang butuh koordinasi cepat. Kalau saya hanya menulis tentang ini, niscaya saya sudah akan menangis.

Tapi perjanjian itu saya iyakan saja. Saya ga mau mikir jauh. Yang penting bisa keluar dulu, he he he. Cuma, saya pasang niat bener. Bahwa saya bener-bener akan bayar.

Nah, saat itulah saya bercanda sama Allah. Saya menikmati betul candaan itu. Deket sekali terasa Allah itu. Dan memang Dia itu dekat.

Begini, kan ketahuan tuh bahwa saya secara hitungan matematis ga bisa bayar? Bila saya ga bisa bayar dalam satu bulan, maka saya harus menyerahkan diri lagi. Tapi darimana nyari 86 juta dalam 1 bulan? Terutama dalam keadaan saya seperti itu? Saat itulah, semua prinsip-prinsip dasar Wisatahati, dimulai dipraktekkan. Tapi belum ditulis saat itu. Di antaranya: konsentrasi jangan di 86 juta. Tapi di pencarian menuju Allah saja; nyari ridha-Nya, nyari ampunan-Nya. Untuk masalah? Jangan dipikirin! Ntar stress sendiri. Sampe sini, kelihatannya ga adil ya? Biar saja. Allah yang tahu hati saya. Sungguh, dengan cara begini, saya justru sedang berikhtiar membayar 86 juta tersebut! Persis dalam waktu 1 bulan. Saya ga tahu saya bisa bayar atau tidak. Tapi yang saya paham, Allah pasti bisa. Jadi, ngapain juga saya pikirin, biar saja Allah yang mikirin! Gitu lah pikiran saya. Biar saja Allah yang urus. Biar saja Allah yang akan menyiapkan sejumlah uang tersebut. Dengan cara-cara-Nya. Bukan dengan cara-cara saya.

Lalu apa yang saya lakukan? Saya melakukan perbaikan dan perubahan di ibadah-ibadah saya saja; shalat ditepatwaktuin, shalat-shalat sunnah qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witir, baca al Qur’an, zikir, dipolin. Ikhtiar saya apa? Ya itu lah ikhtiar saya. Kan susah loh menjaga rutinitas ibadah dalam keadaan puyeng? Iya ga? Yang ngalamin ini yang bisa jawab dah.

Selebihnya, saya menawarkan kepada Allah menjadi tentara-Nya. Saya ngajar sana sini, ngajar al Qur’an, ngajar komputer, ngajar bahasa, ngajar madrasah, dan lain-lain. Gaji-gaji dari kerjaan-kerjaan saya itu, saya polin buat Allah. Saya tahu ga bakalan mungkin cukup kalau saya tabung. Jadi, saya ambil saja buat makan, selebihnya tos-tosan saja buat Allah.

Hingga di pertengahan bulan, saya megang uang nih, dari hasil jualan es dan jadi tukang fotokopi. Besarnya 27.500 rupiah. Uang ini saya timang-timang. Saat itu melintas di pikiran saya, mau bercanda sama Allah!

Saya datangi sekolahan di belakang saya bekerja sebagai tukang fotokopi. Saya minta dihadirkan satu anak yatim yang pintar untuk saya bayarin SPP nya bulan itu. Dihadirkanlah satu anak yatim. Permpuan. Namanya Ummi. Saya katakan padanya, bayaran sekolahnya, bulan ini, saya yang bayarin.

Habis saya bayarin itu, saya gelar sajadah. Saya sujud. Saya katakan kepada Allah yang bagi sebagian yang lain kalimatnya mungkin aneh. Tapi bagi saya, biar saja. Itu ungkapan saking deketnya saya sama Allah. Kurang lebihnya, “Ya Allah, saya udah bayarin tuh satu anak yatim SPP nya. Dan Engkau juga tahu, kalau bulan depan, yang tinggal dua minggu lagi, saya ga bisa bayar hutang yang dibebankan kepada saya, maka saya dipenjara lagi. Ya Allah, tinggal Engkau pilih dah. Kalau Engkau masih tetap membiarkan saya bebas, dan ada waktu, maka saya terusin bayarannya tuh anak yatim. Tapi kalau engga, ya saya bayarin lagi. Sebab ga bisa bayar lagi emangnya”.

Habis itu saya bangun dari sujud, dan segar rasanya. Saya yakin sekali Allah tidak akan mengambil keputusan saya ditangkep lagi. Sebab tarohannya anak yatim. Saya tertawa kecil, seraya meminta maaf kepada Allah.

Dua minggu kemudian peristiwa yang saya sempat khawatirkan, tidak terjadi. Ya, saya boleh sombong sedikit. Saya katakan, saya sempat khawatir saja, bukan khawatir. Sebab apa? Sebab saya serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kenapa saya harus khawatir. sudah dengar kan audio yang saya upload? Judulnya: Kenapa Harus Khawatir Padahal Ada Allah? Ya, itulah yang terjadi sama saya.

Nah, karena saya “lolos”, ya saya jalanin janji saya. Saat itu hutang tetap belum lunas. Saya kemudian sadar, doa saya belum sempurna. Kali ini saya sempurnakan.

Saya datang lagi ke sekolah tersebut, saya bayarin lagi SPP anak tersebut. Kemudian saya balik lagi dan sujud, seraya mengatakan (kurang lebih), “Ya Allah, makasih. Udah nolongin saya. Tapi saya hanya bebas doangan sementara. Sebab hutangnya belum selesai. Ya Allah, saya akan tambahin dari sekarang, 1 SPP lagi untuk 1 anak yatim yang lain. Saya mohon kepada-Mu ya Allah, kali ini, dengan wasilah amal ini, bayarkanlah hutang tersebut”.

Subhaanallah, Allah rupanya juga bercanda bersama saya. Masalah itu insya Allah bergulir sempurna penyelesaiannya. Dan tahu ga? Anak yatim kedua yang saya bayarin, namanya Maemunah. Dan Maemunah ini beberapa bulan kemudian jadi istri saya! Maemunah saat saya nikahi, masih duduk di bangku SMP kelas 3. Dan dia satu sekolah dengan si Ummi tadi. Secuplik kisah-kisah saya, saya tebar di berbagai buku saya. Silahkan dikoleksi ya. Saya bukan promosi, tapi sedang jualan, ha ha ha.

Ya sudahlah. Inilah kisah saya. Saya anggap ini kisah perjalanan tauhid. Kisah perjalanan saya mencari Tuhan. Mencari Tuhan yang hilang dari diri saya, dari hati saya. Maka nya kelak kemudian kisah-kisah perjalanan saya diberi judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang.

Di esai KuliahOnline berikutnya, kita akan pelajari kisah hebatnya keyakinan seorang tukang nasi yang kemudian membawanya pada perubahan hidup. Ya saudara-saudaraku, jika kita percaya dan yakin sama Allah, insya Allah hidup kita akan berubah ke arah yang kita kehendaki. Semua memang butuh perjalanan waktu, tapi percayalah, perjalanan waktu ini akan sampai juga. Sampe ketemu di esai berikutnya.

***

Air Gula Untuk Bayiku

Saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita. (IS).

Awal tahun 2007, IS menonton TV. Di sana ada saya katanya sedang bertutur, bahwa kalau mau ditolong Allah, tos-tosan saja sedekahnya. Dan insya Allah akan diganti sama Allah dalam 1 minggu. Itu kalau kita percaya Allah menggantinya dalam 1 minggu.

Saat itu, ia ada uang 1 juta. Uang itu sejatinya ditahan untuk tabungan bayar kontrakan yang 2 bulan lagi bakalan habis. Juga susu anak, listrik, dan lain-lain.

IS dan istrinya sepakat untuk menyedekahkan uang itu, dengan segala resikonya.

Sekian minggu ia tunggu keajaiban sedekah, tapi tak kunjung datang. Susu anak sudah ia gantikan dengan air gula. Masa katanya mati. Ia kasih biskuit2 kecil pengganjel makanan. Rasa sesal di hati istrinya selalu ia tepis dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan iman dan amal salehnya a/ janji-janji Tuhannya.

Keyakinan dan kesabarannya berbuah. Keridhaan bayinya juga meminum air gula, membuat keberkahan Allah datang. Dan datangnya ga maen-maen. Ia dapat order menangani katering 16rb orang 3x sehari, alias katering dengan 48rb porsi per hari. Ini menjadi berkah buatnya. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, uangnya sudah 1 milyar.

Dari dia, ada pesan yang disampaikannya lewat saya. Sekali sudah ditempuh jalan Allah, tidak ada cerita tidak berhasil. Pasti berhasil. Hanya, sabar, dan terus jalani kehidupan ini. Biarlah ia mengalir, melewati tikungan anak sungai yang namanya kesulitan, kesukaran, sebagaimana alaminya alam ini yang berisi dua hal; kesenangan dan kesusahan. Sungai pasti ada ujungnya. Dan inilah yang menjadi keyakinan kita.

Ada juga bumbu kisahnya yang tak kalah menariknya. Di tengah situasinya yang hampir bener-bener game over, hampir mereka ini pinjam uang ke kerabat dekat, atau bahkan orang tua. Tapi mereka ga jadi minjem. Mereka bilang, andai mereka jadi pinjam, maka Allah belum tentu bakal turun tangan. Mereka saat itu pasrah. Andai mereka diusir dari kontrakannya, andai mereka tidak bisa bayar listrik kontrakannya lalu malu kepada yang punya kontrakan, andai mereka tidak bisa membeli susu buat bayinya lalu bayinya jadi sakit, atau mati sekalipun, maka biarlah Allah tahu, bahwa semua ini terjadi sebab mereka berdiri di atas keyakinannya akan janji-janji Allah. Masa iya itu semua akan terjadi? Begitulah IS dan istrinya meyakinkan diri mereka. Dan sekalian saja pikir mereka, mereka betul-betul kosong, supaya Allah segera menunjukkan Kuasa-Nya. Subhaanallaah.

Di saat “bercanda” dengan kesusahannya, IS dan istrinya menawar sebuah rumah bagus. Ga tanggung-tanggung seharga 700 juta, sebagai “alternatif” andai mereka benar-benar diusir dari kontrakannya. Dia tawar rumah tersebut, dan mengatakan akan membayar dalam tempo 2 bulan. Cara bicaranya meyakinkan, sungguhpun si pemilik rumah tidak yakin dengan penampilan pembeli rumahnya. Dan itu kelak benar-benar terjadi. Masya Allah. Bahkan bukan hanya rumah itu yang bisa ia beli tepat waktu. Tapi juga ia bisa membangun satu perusahaan katering dengan aset hampir 20 milyaran dalam tempo hanya 1 tahun. Bahkan untuk tahun 2008, dia memegang kontrak katering yang sangat-sangat besar. Sejumlah 37 milyar rupiah.

Subhaanallaah, alhamdulillah.

***

Menjadi Lemah

Hanya bersandar kepada Allah dan yakin pada pertolongan-Nya, kita menjadi kuat.

IS, sang penjual nasi yang mendapat berkah tersebut, belum tentu mendapatkan berkah yang begitu banyak, andai ada perubahan suasana hati.

Koq jahat bener ya Allah? Hanya gara-gara perubahan suasana hati,lalu berkah amal saleh Allah tidak beri. Ya memang ini akan jadi diskusi panjang. Mudah-mudahan bisa dibahas di lain tempat.

Sekarang, kita coba bahas IS tersebut.

Allah menyuruh kita percaya pada-Nya, mengikuti seruan-Nya, dan bersandar hanya pada-Nya. Lalu IS dan istrinya percaya pada Allah. Dia sedekahkan uang 1jt-1jt nya yang ia punya, padahal uang ini sejatinya untuk bayar kontrakan dan bayar ini itu.

Ternyata, sampe hampir dua bulan, Allah ga balas-balas tuh amal salehnya. Setidaknya menurut pengetahuan dan perasaannya. Kan, kadang begini, Allah sebenernya udah balas, cuma kitanya aja yang ga berasa. Sebab belum tentu juga balasan Allah itu hanya uang. Bisa juga balasannya berupa panjang umur, sehat, anak sehat, keluarga bahagia, dan seterusnya. Tapi oke lah, IS dan istrinya menunggu balasan Allah. Tapi ya itu tadi, balasan Allah ga kunjung datang.

Ketika kesulitan relatif memuncak; Kontrakan udah mau habis, air susu anak sebagaimana diceritakan sebelumnya sudah diganti dengan air gula, mereka berinisiatif untuk meminjam kepada orang tuanya. Tapi mereka urungkan ini. Mereka khawatir mereka menjadi lemah.Saya mengamini, ya mereka akan menjadi lemah, manakala mereka berpindah sandaran. Mereka udah benar. Bertahan saja dengan kesusahannya itu. Makin susah, makin baik. Biar Allah tahu bahwa mereka jadi tidak bisa bayar kontrakan sebab uang kontrakannya disedekahkan. Biar Allah tahu bahwa anak mereka mengalah minum air gula sebab jatah susunya disedekahkan. 

Kondisi-kondisi begini kalo dibawa ke shalat malam lalu diadukan ke Allah, wuah, cakep banget. Bahasanya tentu saja bukan bahasa mengeluh. Tapi bahasa pasrah. Misal, “Ya Allah, kami serahkan uang kami kepada-Mu. Sedang Engkau tahu tidak ada yang kami miliki lagi kecuali itu. Dan Engkau pun tahu ya Allah, bahwa uang itu sedianya untuk membayar kontrakan, susu dan yang lain-lainnya. Ya Allah, andai balasannya adalah ampunan-Mu, kasih sayang-Mu, ridha-Mu, kepanjangan umur kami dalam keadaan sehat dan beriman, maka tidak mengapa ya Allah Engkau tidak membalas sedekah kami dengan uang. Tapi ya Allah, kami pun tahu bahwa Engkau tidak akan mengingkari janji, dan Engkau lah Yang Maha Memberi Rizki, Engkau pula Yang Maha Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan kami…”.

Nah, kalo kita sudah melengkapi dengan doa semacam ini, dengan kepasrahan semacam ini, cakep bener tuh. Sayang, kalo kemudian kita “melengkapi” sedekah atau amal kita, dengan malah pindah sandaran ke manusia.

Saya membayangkan, andai IS bener-bener minjam ke orang tuanya, bisa saja IS dapat uang. Tapi kemudian pertolongan Allah tidak akan bener-bener terasa. Beda, kalau udah setengah pingsan, kemudian pertolongan Allah datang, wah, ini baik benar untuk menambah keyakinan dan iman kita. Akan terasa benar pertolongan Allah itu.

Apalagi kenyataannya, belum tentu ketika IS dan istrinya minjam ke orang tuanya lalu orang tuanya menyediakan, atau orang tuanya ada uangnya. Belum tentu. Jangan-jangan malah menjadi lemah kita adanya.

Misal, terjadi dialog yang melemahkan seperti ini. Kita berandai-andai istrinya IS yang maju ke orang tuanya:

(+)   Pak, boleh saya pinjam uang?

(-) Suamimu kemana?

(+)  Ada.

(-) Kalo ada, koq minjem uang sama Bapakmu ini?

(+)   Ada. Tapi uangnya yang ga ada.

(-) Emangnya ga kerja?

(+)  Kerja.

(-) Koq kerja ga ada duitnya? Buat apa kerja?

(+) Sebenernya ada sih Pak.

(-) Loh, kalo ada, koq masih tetap minta sama Bapak?

(+)   Uangnya disedekahkan dua bulan yang lalu.

(-) Maksudnya?

(+)  Ya, dulu ada duit. Tapi ngelihat Ustadz Yusuf di TV.

(-) Apa hubungannya?

(+)   Katanya, kalo mau kaya, ya sedekah apa yang kita punya.

(-) Wah, ya engga gitu. Sedekah koq pengen kaya.

(+)  Ya, saya juga sudah sampaikan itu.

(-) Terus, suamimu tetap maksa?

(+) Iya.

(-) Ya, sudah. Itu kebodohannya.

(+)   Tapi Pak, saya butuh banget uang itu. Buat susu anak. Sama kontrakan. (-) Ya, minta sama suamimu itu. Berapa uang yang dulu kamu sedekahkan?

(+)  1 juta Pak

(-) Bagus! Bapakmu ini saja ga pernah dikasih uang 1 juta…

Nah, kalo situasi dialog ini yang terjadi, kira-kira apa yang akan terjadi? Lemahlah istrinya, dan tidak baguslah hubungan antara mertua dan mantunya itu. Bahkan, sang istri pun sekarang akan jadi serba salah.

Tapi kemudian IS dan istrinya memilih keep silent. Dia pasrah saja sama Allah. Ya akhirnya kejadian dah apa yang diceritakan di tulisan sebelumnya ini. Wallahu a’lam.

***

Uang bensin yang ditukar 1000x lipat

Allah percaya kepada manusia. DIA berikan dan DIA titipkan alam ini pada manusia. DIA bahkan titipkan rizki dan karunia khusus untuk manusia. Tapi manusia banyak yang tidak percaya pada-Nya.

Sampe mana kepercayaan akan janji Allah itu bisa bekerja untuk kehidupan kita? Sampe tidak ada “koma”nya. Melainkan hanya ada “titik”. Titik ya titik, alias percaya ya percaya. Jangan ada tanda tanya ke Allah. Dan jangan ada keluhan, apalagi sampe terjadi penyesalan. Bahkan pada tataran yang ekstremnya, ketika seseorang sudah percaya sama Allah, tidak usah kemudian mencari jalan yang lain. Lalui saja kehidupannya dengan bergantung penuh pada ketetapan Allah dan berjalan terus dengan kepercayaannya itu. Insya Allah di ujung perjalanan kita, sungguh penuh dengan kejutan-kejutan indah.

Syahdan, seorang buruh pabrik bersedekah 1000 rupiah di akhir pengajian tentang sedekah. Sedangkan uang 1000 ini sedianya untuk membeli bensin yang memang harganya saat itu Rp. 1.700 per liter. Jadi, 1000 rupiah tersebut untuk beli setengah liter bensin. Maklum, hanya buruh perkebunan. Yang penting motornya bisa jalan bolak balik ladang ke rumah, rumah ke ladang.

Tapi hari itu, dia memilih menyedekahkan uang 1000 rupiah itu untuk berharap keajaiban sedekah bisa terjadi pada dirinya. Sungguh ia pun bosan dengan keadaan dirinya. Andai sedekah bisa membuat dirinya bisa banyak rizki, kenapa tidak.

Segala keraguan ia tepis. Termasuk bayangan mendorong motornya apabila bensinnya habis di tengah jalan. Ia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa bensinnya pasti cukup membawanya pulang ke rumah. Tapi di saat yang sama, ia pun mencoba menghibur bahwa ia siap saja mendorong motornya itu sampe ke rumah. Inilah yang ia anggap perjuangan sedekah.

Dan apa yang terjadi, baru beberapa ratus meter saja, bensinnya sudah habis. Jadilah ia mendorong motornya itu.

Mengeluhkah ia? Tidak. Ia siap. Maka ia nikmati saja kejadian ini. Ia dorong motor ini dengan enteng, padahal motornya ini VESPA!

Dan pertolongan Allah itu benar-benar nyata. Baru beberapa langkah ia mendorong, ia dihampiri oleh pengendara mobil kijang yang ternyata kawan lamanya yang sedang berkunjung ke kampung tersebut. Oleh kawannya ini, ia dibelikan bensin yang cukup baginya menghidupkan motor. Tidak cukup sampai di situ, pengendara kijang ini kemudian memberikan uang 1jt di dalam amplop tertutup, yang baru ia ketahui jumlahnya ketika ia sampai di rumah. Subhaanallaah, betapa benar janji Allah. Terlebih lagi terhadap mereka yang tetap memegang teguh kepercayaannya kepada Allah.

***

Jangan Memperlemah Diri Lagi

Banyak keadaan-keadaan yang bisa memperlemah iman kita pada janji-janji-Nya. Kiranya kesabaran dan usaha menambah ilmu, akan membuat kita terpelihara.

Saudaraku yang membaca kisah tentang “motor yang kehabisan bensin” sebelum tulisan ini, saya akan mengajak saudara memperdalam situasinya, sambil belajar di mana gerangan kesalahan kita ketika kita menempuh jalan-jalan Allah, jalan-jalan riyadhah. Yaitu banyak di antara kita yang berubah menjadi pemarah kepada Allah lantaran menganggap cara-Nya Allah tidak sakses membuat kita mencapai keinginan kita. Tidak sedikit para pencari pertolongan Allah lalu malah berubah menjadi mengeluh kepada Allah, dan cenderung menyalahkan Allah. Tidak sedikit juga orang-orang yang menjadi lemah sebab bersandar kepada orang lain, setelah ia menyandarkan dirinya kepada Allah. Artinya, ia malah berpaling kepada selain Allah. Langkah yang sudah betul, berubah di ujungnya.

Dan tidak sedikt juga yang berubah sebab ia “keliru” bertanya kepada yang tidak luas ilmunya. Terus terang, saya sendiri juga kadang “kerepotan” dengan pertanyaan-pertanyaan jamaah, yang mana ia konfirmasikan ilmu-ilmu tentang sedekah kepada para ustadz yang “tidak sepaham”. Akhirnya, tidak sedikit mereka yang malah jadi dosa. Sudah mah jadi menyesal, mereka bahkan su-udzdzan kepada saya.

Saya kerap memberitahu, bahwa ketika jalan ibadah; sedekah, shalat-shalat sunnah, dan doa ditempuh, maka ia pasti akan berhasil. Tinggal tunggu waktu. Sambil mengisi waktu, tempuhlah juga jalan kesabaran dan keistiqamahan menegakkan terus ibadah-ibadah tersebut sambil menanti penuh harap kepada Allah Yang Tidak Pernah Mengecewakan.

Baik, sesuai dengan mukaddimah di sub tulisan ini, saya akan ajak saudara memperdalam situasi kisah motor yang kehabisan bensin tersebut.

Pada kasus motor yang kehabisan bensin, ia tidak akan mendapatkan berkah ketemu dengan pengendara kijang andai ia “beralih” kepada bantuan orang lain. Misal begini, setelah sadar bahwa ia “meminjamkan” uang kepada Allah, lalu ia menjadi tahu bahwa bensinnya dikhawatirkan tidak cukup, ia kemudian memutuskan untuk “meminjam” kepada orang lain. Menurut saya, ini sama saja tidak menyempurnakan kepercayaannya kepada Allah. Orang lain menganggap ini sebagai ikhtiar, sedang saya menyebutnya kepercayaan yang lemah. Makin kita pasrah kepada Allah, semakin enak kita “mengadukan” kelemahan-kelemahan kita.

Dan niscaya juga ia bertambah lemah, andai ia benar-benar meminjam kepada manusia. Apalagi kalau orang yang ia pinjam duitnya itu menyalahkan dia. Misal, terjadi dialog:

(+)   Mas, boleh saya pinjam uang…?

(-) Buat apa…?

(+)  Buat beli bensin.

(-) Lah, emangnya kenapa bensinnya, habis?

(+) Belum. Tapi kayaknya dikit lagi juga habis.

(-) Udah tahu bensin bakalan habis, koq masih dibawa juga motornya.

(+)   Tadinya bawa duit Mas. Buat beli bensin.

(-) Sekarang mana duitnya? Koq minjam?

(+)  Dipakai buat sedekah. Habis itu, saya ga ada duit lagi.

Orang yang dimintakan duitnya ini barangkali tertawa… “Mas, seribu kali percaya sama si ustadz tersebut, mbok ya mikir. Udah tahu bensin udah mau habis, dan uang tersebut mau digunakan untuk membeli bensin, eh, malah disedekahin. Ini sama saja nyulitin diri sendiri. Coba kalo bener-bener mogok, dan mogoknya bukan karena motornya rusak? Tapi karena bensinnya habis? Sudah mah susah, malu lagi…”.

Pengendara motor ini akan makin tertekan, manakala ia makin disudutkan, “Mas, malah mas ini membuat sulit orang saja. Lain kali kalo mau sedekah, pikirin dulu kebutuhan sendiri. Jangan sampe bikin orang susah saja”.

Wah, coba. Udah mah engga dapet, dihina dan diperlemah pula. Dan orang tersebut tidak salah. Kelihatannya kan betul. Tapi inilah cerita sedekah. Kalo normal-normal saja, ya ga ada keajaiban sedekah.

Taro kata begini, dia minjem, lalu bener-bener dapet pinjaman untuk beli bensin, maka ga bakal ketemu dengan pengemudi kijang yang membuatnya dapat uang 1000x lipat dari yang ia sedekahin. Koq gitu? Lah iya, kan lancar. Ga ada “penghentian waktu” atau “penghentian perjalanan”, sebab bensinnya penuh dan motornya ga mogok. Kalo begini, mana ketemu dengan si pengendara kijang.

Percayalah sama Allah. Tempuhlah jalan-jalan riyadhah. Dan jangan menyisakan sedikit pun ruang di hati, bahwa kita masih butuh bantuan manusia. Kita hanya butuh bantuan Allah saja. Bukan yang lain.

Perihal S'Jamil
Pertama-tama saya adalah seorang anak manusia. Kemudian saya adalah seorang suami, kemudian seorang ayah. Namun tetap saya adalah seorang anak manusia, meski sudah menjadi seorang suami dan seorang ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: