Sejarah Tasawuf – 3


Pada era Syekh Junayd inilah dunia Islam dikagetkan oleh tindakan dan akhiir yg tragis dari salah satu muridnya yg paling cerdas, yakni al-Hallaj.

Husain Manshur al-Hallaj, adalah sufi agung yang terkenal sekaligus sangat kontroversial hingga sempat mengguncang dunia Islam pada umumnya, dan tasawuf pada khususnya, salah satu syuhada wali Allah yang amat cinta kepada Tuhannya. Beliau dihukum mati dengan cara keji oleh lawan-lawannya, yang menuduhnya sesat karena dianggap mengajarkan panteisme atau ajaran hulul, persatuan lahut (sifat dasar Tuhan) dan nasut (sifat dasar manusia), bersatunya Tuhan dengan manusia. Ucapannya yang terkenal, Ana al-Haqq, bergaung ke seluruh penjuru dunia Islam dan mempengaruhi banyak Sufi dan Wali Allah generasi selanjutnya. Bahkan sebagian sufi menyebutnya sebagai wali yang menempati kedudukan tinggi, yakni Sulthan al-Awliya. Julukan al-Hallaj (penggaru, pemintal) diperolehnya setelah beliau menunjukkan sebuah karamah. Suatu ketika beliau melewati sebuah gudang dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jari-jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu, biji-bijinya langsung terpisah dari serat-serat kapasnya. Beliau juga disebut Hallaj as-Asrar karena mampu membaca pikiran orang dan menjawab pertanyaan bahkan sebelum pertanyaan itu dikemukakan kepadanya.

Lahir dengan nama Abu Mughits al-Husayn ibn Manshur pada 244 H / 858 M di desa Tur, kota Bayda di provinsi Fars sebelah selatan Iran yang sudah dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Orang tuanya berasal dari Persia. Menurut sebuah legenda, ketika hamil ibunya pernah berjanji akan menyerahkan anaknya kepada para fuqara’, yakni para penempuh jalan rohani. Ayahnya adalah seorang pemintal bulu domba (hallaj). Kelak putranya juga menggeluti profesi ini meski tidak selamanya. Ayahnya sering melakukan perjalanan dagang sampai ke pusat-pusat tekstil di Ahwaz, Tustar, Nahr Tira, Qurqub, dan akhirnya pada 255 H / 868 M keluarganya menetap di kota Wasit yang penduduknya adalah kaum Arab Sunni tradisional. Di kota Wasit inilah Syekh al-Hallaj dibesarkan sejak usia 5 tahun. Di kota ini pula Syekh al-Hallaj mendapat pendidikan dasar di sekolah bermazhab Hanbali, antara lain pelajaran seni membaca dan menghafal Qur’an, tata bahasa Arab, menghafal hadits, dan doa. Pada 260 / 873, setelah menamatkan pendidikannya di pusat kota tersebut, Hallaj muda kembali sendirian ke Tustar. Di sana beliau menjadi murid ulama dan sufi terkenal dari mazhab Sunni, Syekh SAHL AL-TUSTARI (w.273). Al-Hallaj tinggal bersama Syekh Sahl selama kurang lebih dua tahun. Sesudah itu beliau sekali lagi melakukan perjalanan ke Irak, kali ini ke Basra.

Pada 877 M Syekh al-Hallaj menikahi putri Abu Ya’qub Aqta, seorang sekretaris (khadam) Syekh Junayd al-Baghdad dan pengikut Amr al-Makki. Dari pernikahannya ini kelak Syekh al-Hallaj dikaruniai tiga putra dan satu orang putri. Salah satu putranya, Hamd, meninggalkan catatan tentang kehidupan dan kesyahidan ayahnya. Menurut catatan ini, pernikahan Hallaj menimbulkan perselisihan antara Syekh Amr al-Makki dengan Syekh al-Hallaj. Syekh Amr al-Makki tidak menyetujui pernikahan itu, dan karenanya Syekh al-Hallaj terpaksa pergi ke Baghdad untuk meminta nasihat kepada Syekh Junayd al-Baghdad. Kecemburuan spiritual semacam itu kelak akan terus membayangi Syekh al-Hallaj disepanjang hayatnya. Kecemburuan-kecemburuan spiritual datang dari guru-guru yang dekat dengannya dan juga, kelak, dari murid-muridnya, yang pada akhirnya menimbulkan perselisihan doktrinal. Syekh Junayd, yang waktu itu diakui sebagai sufi dan ulama terkemuka di Irak, menganjurkan agar Hallaj bersabar seperti yang dilakukan oleh Syekh Hasan al-Basri.

Syekh al-Hallaj tumbuh dalam abad yang menjadi saksi berdirinya Bayt al-Himah yang tersohor, sebuah pusat penerjemahan di Baghdad yang bertujuan menyebarluaskan pandangan dan ide-ide Yunani. Pusat ini berada di bawah perlindungan khalifah al-Ma’mun yang anti-tradisionalis dan sedikit berbau Syi’ah. Keahlian debat Syekh al-Hallaj, baik dalam soal keadilan maupun persoalan yang menyangkut Qur’an, mulai diasah pada periode yang penuh ketegangan ini. Sikapnya yang terbuka terhadap perspektif dan tradisi agama lainnya berasal dari kecenderungannya untuk menentang “ortodoksi” Sunnni di bidang intelektual, politik dan kultural. Ini adalah periode yang membuat karakternya menjadi rawan terhadap bahaya sektarianisme spiritual, sebuah ciri yang telah lama muncul dalam sejarah Islam dan telah diperingatkan sejak dulu oleh Syekh Hasan al-Basri kepada umat; dan bahaya inilah yang ikut serta membawa al-Hallaj kelak menuju kematiannya demi memperjuangkan keadilan dan persatuan seluruh umat.

Beliau kemudian umroh dan menetap di Mekah selama setahun. Konon pada masa ini beliau berpuasa terus-menerus untuk mempersiapkan diri menerima panggilan spiritual yang lebih tinggi. Ia memilih berbagai bentuk kewajiban dan anjuran agama yang paling berat bagi nafsunya. Seperti Hasan al-Basri dan Sufi-sufi generasi selanjutnya, Syekh al-Hallaj menganggap bahwa penyucian hati adalah syarat utama untuk merealisasikan panggilan moral dan spiritual atas nama umatnya. Kemungkinan besar pengalaman di masa mudanya inilah yang memperkuat keyakinannya terhadap makna dari sayha bi’l Haqq, seruan untuk menegakkan keadilan sebagai saksi atas Realitas Tuhan dan Kebenaran Keesaan Tuhan yang transendental. Setelah itu beliau tampaknya semakin kuat menentang ekstremisme politik dan tirani jenis apapun. Beliau juga menentang kesufian yang menyendiri dan tenang yang dinisbahkannya kepada para gurunya sendiri, termasuk Syekh al-Junayd. Menurutnya, Syekh al-Junayd merepresentasikan penarikan diri dari aktivitas politik dan hanya menitikberatkan pada ibadah. Penolakan terhadap corak sufisme yang tenang ini menjadikan Syekh al-Hallaj berseberangan dengan pandangan asketik yang pada mulanya diajarkan Syekh HASAN AL-BASRI yang menganjurkan orang agar bersabar dalam menghadapi tirani dan menanamkan rasa takut dan sedih (al-khauf wa al-huzn).

Kira-kira pada periode inilah Syekh al-Hallaj ikut dalam diskusi yang melibatkan tiga orang sufi terkemuka. Diskusi ini menunjukkan perkembangan pandangannya tentang inspirasi personal dari Tuhan (ilham): di Mekah beliau berdiskusi dengan Syekh Amr Makki; di Kufa dengan Syekh IBRAHIM AL-KHAWAS; dan di Baghdad dengan Syekh al-Junayd. Dalam catatan biografisnya Hamd menyebutkan sebuah pertemuan antara ayahnya dan Junayd dengan sekelompok sufi (fuqara) di mana saat itu diajukan sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan “keinginan untuk mendapatkan misi pribadi (mudda’i).” Syekh Al-Junayd waktu itu memberi nasihat kepada al-Hallaj muda yang masih bersemangat ini agar tenang dan bersabar. Namun sumber lainnya menyebutkan bahwa pertemuan ini terjadi saat krisis pernikahan dan merupakan satu-satunya pertemuan yang mereka adakan. Yang penting di sini adalah bahwa Syekh al-Hallaj tampak berbeda pandangan dengan aliran Sufi tradisional seperti yang dianut oleh mazhab di Baghdad. Akan tetapi di Basra, tempat Syekh al-Hallaj berkumpul kembali dengan istrinya setelah menyendiri di Mekah, beliau mulai menarik banyak pengikut dan memulai melakukan “misi pribadinya.” Setahun kemudian, Syekh al-Hallaj meninggalkan Basra menuju ke Tustar bersama istrinya dan saudara misannya, seorang anggota keluarga Karba’i yang beraliran Syi’ah. Di sana beliau mulai berdakwah (baik dalam bahasa Arab maupun Persia) kepada penduduk setempat dan dakwahnya ini mendapat keberhasilan. Tetapi Syekh al-Hallaj masih terus mendapat kecaman dari bekas gurunya, Syekh Amr al-Makki. Serangan-serangan ini menjadi faktor penting dibalik keputusan Syekh al-Hallaj untuk memutuskan ikatannya dengan guru Sufi itu dan menanggalkan jubah Sufinya, meskipun jubah ini kelak menjadi satu-satunya “pakaian” yang dikenakannya selama melakukan perjalanan dan saat kelak berada di penjara.

Di sekitar pusat kota Tustar dan Ahwaz, beliau sering menjadi tamu dikalangan tuan tanah, birokrat kelas atas, orang-orang kaya, kelompok yang lebih dikenal sebagai abna al-dunya. Meskipun Syekh al-Hallaj dikenal sebagai dai yang tersohor, namun gaya bahasanya makin lama semakin abstrak dan dialektis, mengikuti gaya ucap di bidang filsafat (falsafa) kaum Muslim non-tradisionalis (yakni Mu’tazilah dan Syi’ah) di kawasan itu.

Sekitar tahun 887, saat usianya 30 tahun, beliau ditangkap oleh agen pemerintah Sunni dan dihukum cambuk di muka umum di Nahiyat al-Jabal, yang terletak di antara Sus di Iran dan Wasit di Irak. Syekh al-Hallaj dituduh sebagai penghasut politik, dan dituduh menjadi seorang agen gerakan Qarmathian, yakni kaum radikal sayap kiri dari golongan Syi’ah yang berkeinginan untuk menggulingkan pemerintahan Abbasiyah dan para pendukungnya. Dakwah-dakwahnya memang membahayakan di bidang politik, walaupun dalam kenyataannya beliau tak lagi aktif dalam bidang politik setelah pemberontakan Zanj dipadamkan.

Selama lima tahun kemudian dia berkeliling menjalankan “misi” ke seluruh pusat-pusat kota yang telah diarabkan (arabicized) di Iran barat, Khurasan dan di sepanjang Sungai Oxus. Pada tahun 893 beliau berkumpul bersama istrinya di Ahwaz. Menjelang akhir tahun ini di sini anak ketiganya lahir, yakni Hamd. Di sini pula beliau mendapat julukan hallaj al-asrar atau hallaj al-qulub, pemintal atau pembaca rahasia hati terdalam. Mulailah beredar kisah-kisah tentang karamahnya, dan pada saat yang sama beliau berhasil menyangkal tuduhan melakukan praktik perdukunan yang dilancarkan oleh kaum Mu’tzailah dan Syi’ah. Hal ini membuatnya makin terkenal dan mendapat lebih banyak pengikut. Pada 894 beliau melakukan perjalanan keduanya ke Mekah melalui Basra dan pusat gerakan Qarmathian di Teluk Persia. Menurut keterangan beliau tiba di Kota Suci Mekah bersama 400 pengikutnya yang berpakaian sederhana dan lusuh dan menjalani kehidupan fakir. Beliau kemudian tinggal di pusat tekstil di Baghdad selama setahun. Pada masa ini beliau kembali menjalin hubungan dengan para sufi, terutama dengan sufi yang individualistik seperti Syekh Abu Hasan al-Nuri (w. 295/907) dan Syekh ABU BAKAR AL-SHIBLI (w. 334/945).

Perihal S'Jamil
Pertama-tama saya adalah seorang anak manusia. Kemudian saya adalah seorang suami, kemudian seorang ayah. Namun tetap saya adalah seorang anak manusia, meski sudah menjadi seorang suami dan seorang ayah.

One Response to Sejarah Tasawuf – 3

  1. Ping-balik: Sejarah Tasawuf « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: