Sejarah Tasawuf – 14

Kini sesudah masuk ke abad 12 M, Tarekat-tarekat mulai mengkristal, dan tradisi silsilah (mata rantai ruhani) pun mulai mapan. Proses kristalisasi yang dimulai sejak era Abu Said al-Khair dimulai dari pusat-pusat peradaban Islam dan sekitarnya, seperti Baghdad, Khurasan, dan sebagainya. Kurang lebih seabad setelah proses kristalisasi tarekatdi pusat peradaban, menjelang akhir abad 12 M ajaran Tarekat mulai menyentuh ke wilayah yang jauh dari pusat kekhalifahan awal, atau dapat dikatakan tarekat-tarekat mulai sampai ke wilayah periferal (pinggiran) dunia Islam. Ancaman dari pasukan Mongol menyebabkan banyak orang ISlam beremigrasi, termasuk juga para ulama sufi. Pada bagian ini, kita akan menengok ke wilayah lain di luar pusat kekuasaan Islam yang pelan-pelan tapi pasti tersentuh oleh dakwah ulama Sufi dan kelak beberapa abad kemudian akan menjadi pusat kekuasaan Islam yang baru. Baca pos ini lebih lanjut

Bergegas Menuju Allah

Supir Saya

Kita tidak mengenal Allah. Itu yang menyebabkan kita tidak menyambut kedatangan-Nya. tidak di shalat fardhu, dan lebih tidak lagi di shalat tahajjud. Beruntunglah orang-orang yang tahu bahwa Allah itu selalu datang. Datang dengan segala karunia-Nya, datang dengan segala pertolongan-Nya. Baca pos ini lebih lanjut

Kita Sering Habis-habisan Berbuat untuk Sesuatu yang Justru Akan Kita Tinggal

Daarul Qur’an Method    Kita sering habis-habisan berbuat untuk sesuatu yang justru akan kita tinggal. Sedang untuk sesuatu yang bakal abadi, sering kita tidak sungguh-sungguh. Baca pos ini lebih lanjut

Sejarah Tasawuf – 13

Pada masa yg hampir bersamaan, kawasan Andalusia, Konya, Baghdad, memunculkan tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh sampai zaman ini. Dan pada saat yang sama pula, di kawasan lain, yakni di Asia Tengah, muncul guru-guru yang meskipun kepopulerannya dibayang-bayangi oleh syekh2 agung lainnya, namun kontribusinya sangat besar pula bagi perkembangan tasawuf di kawasan lain. Sementara kawasan Timur Tengah dan Afrika dan sebagian Eropa tengah bergairah dengan ajaran-ajaran Syekh besar seperti Maulana Rumi, Syekh Akbar ibn Arabi, Hallaj, Robi’aj dan sebagainya, di sebuah kawasan yang agakjauh, tepatnya di Uzbekistan, muncul salah satu guru sufi besar, yang dijuluki Mata Air Tarekat Sufi Khawajagan (Guru-guru Sufi Asia Tengah), karena dari beliaulah benih-benih tarekat besar dari sana muncul. Beliau adalah Syekh Abdul Khaliq al-Gujdwani. Baca pos ini lebih lanjut

Terkadang, Tanpa Sadar, Kita Memberi Perintah Kepada Allah

Tidak ada pekerjaan terpenting dalam kehidupan kita, kecuali menunggu datangnya shalat, dan menyegerakan shalat.

Dalam satu dialog ada yang bertanya kepada saya bahwa tanpa sadar kita sering memberi perintah kepada Allah. “Tahu ga Ustadz, perintah apa tuh kira-kira?”.

Saya memilih diam. Menikmati nasihat yang sedang datang ke saya.  Sejak awal bicara, saya memilih belajar saja.

“Perintah yang dimaksud, perintah tunggu…” katanya melanjutkan.

Pembicaraan saat itu sedang membicarakan shalat tepat waktu. Saya langsung merespon membenarkan. “Iya juga. Perintah tunggu ya?”

Coba aja lihat, kata orang ini. Ketika Allah memanggil, lewat muadzdzin, kita masih asyik dengan dunia kita. Tidak sadar bahwa Allah sudah memanggil kita untuk sujud dan ruku’ menghadap-Nya. Sebagian lagi mendengar, tapi tidak bergerak. Sebagiannya malah tidak bisa lagi mendengar. Tertutup oleh kesibukannya bekerja, berusaha dan mencari dunia.

Bener. Rupanya kita ini memberi satu pengkodean terhadap Allah, di hampir di setiap 5 waktu shalat. Yaitu pengkodean perintah “TUNGGU”. Luar biasa.

Jadilah Allah “Menunggu” kita. Sungguh tidak ada pantas-pantasnya. Masa Allah disuruh menunggu kita, iya ga?

***
Perintah “Tunggu”

Tidak ada yang lebih penting di dunia ini yang harus kita kerjakan kecuali shalat. Shalatlah pekerjaan utama kita, sedang yang lainnya adalah pekerjaan sambilan.

Apa yang terjadi dengan diri Anda ketika Anda mendengar Azan? Apakah langsung bergegas memenuhi panggilan azan tersebut, lalu melaksanakan shalat? Atau biasa-biasa saja? Kalau Anda tidak segera bergegas menyambut seruan itu, maka ketahuilah kita termasuk yang berkategori memberi perintah kepada Allah. Yaitu perintah “tunggu” tersebut.

Perintah “tunggu” kepada Allah ini berarti:

# Tunggu ya, saya sedang melayani pelanggan.

# Tunggu ya, saya sedang nyetir.

# Tunggu ya, saya sedang menerima tamu.

# Tunggu ya, saya sedang nemani klien.

# Tunggu ya, saya sedang rapat.

# Tunggu ya, saya sedang dagang nih.

# Tunggu ya, saya sedang belanja.

# Tunggu ya saya sedang belajar.

# Tunggu ya saya sedang ngajar.

# Tunggu ya saya sedang merokok.

# Tunggu ya, saya sedang di tol.

# Tunggu ya, saya sedang dalam terburu-buru.

# Tunggu ya saya sedang tidur.

# Tunggu ya, saya sedang bekerja. Dan seterusnya.

Coba aja berkaca kepada diri sendiri, dan kebiasaan ketika menghadapi waktu shalat. Perintah tunggu inilah yang kita berikan kepada Allah. Adzan berkumandang… Allahu akbar, Allahu akbar… Bukannya kita bergegas menyambut seruan itu, malah Allah kita suruh menunggu…

***

Siapa sih kita?

Sesiapa yang tidak mengusahakan shalat di awal waktu, sungguh dia adalah orang yang tidak mengenal Allah. Rizki-Nya lah yang selalu kita cari. Pertolongan-Nya lah yang sedang kita butuhkan. Dan Allah datang di setiap waktu shalat membawa apa yang kita butuhkan, memberi apa yang kita inginkan, di luar kebaikan-Nya yang bersifat sunnatullah.

Kita ini, manusia, makhluk ciptaan Allah. Diciptakan dari saripati tanah. Kita ada, lantaran ada hubungan yang diizinkan Allah dari hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian terjadilah kita. Ya, dari sperma, kita menjadi manusia. Makanya Allah menyindir di surah Yaasiin ayat ke-77, bagaimana mungkin manusia yang diciptakan dari saripati tanah lalu tiba-tiba menjadi pembangkang? Menjadi pendurhaka kepada Allah?

Tapi ya begitulah. Kita ini emang manusia yang ga tahu diuntung dan ga tahu diri. Kita ga kenal siapa kita. Lihat saja, berani-beraninya kita “memerintah” Allah untuk menunggu kita. Iya kan?

Sedangkan, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, seorang kopral, ga boleh dia memerintah sersan. Sersan, ga boleh memerintah kapten. Mayor, tidak bisa memerintah Jenderal, dan seterusnya. Hirarki itu, terjadi. Bahkan, seorang polisi yang berdiri di pinggir jalan, lalu lewat mobil jenderal, lalu dia tidak mengangkat tangan tanda hormat, maka secara kesatuan, ini akan jadi masalah buat dia.

Nah, sekarang, tanya, siapa kita, dan siapa juga Allah? Terlalu amat sangat jauuuuuuhhhhh hirarki kedudukannya. Lah, bagaimana mungkin kemudian kita membiarkan Allah menunggu kita, atau kita memberikan perintah tunggu kepada-Nya, untuk menunggu kita? Astaghfirullah.

Insya Allah orang bisa rada selamet soal shalat, ketika bisa berpikir begini, “Jangan sampe Allah menunggu saya. Kalo bisa, saya yang menyambut Allah. Sebab ga ada pantes-pantesnya. Masa Raja Diraja, Pemberi Karunia, yang dirindukan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, yang dinikmati rizki-Nya, lalu jadi yang menunggu saya? Emangnya, siapa saya?”.

***
Renungkan tiga esai ini dulu ya sebagai bahan kuliah hari ini. Kepada Allah kita berharap sejak ini TAUHID kita BUNYI. Maksudnya, ilmu tauhid kita itu nyata, berpengaruh ke kehidupan kita. Yakni manakala kita berusaha mengenal Allah di saat Allah datang saja dulu di waktu shalat.

Likulli syai-in baabun. Wa baabut taqorrub ilallaahi, ash-sholaah; segala sesuatu ada pintunya. Dan pintu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah itu adalah shalat.
Materi kuliah ini didownload dari  http://www.kuliahonline.wisatahati.com

Sejarah Tasawuf – 12

Tak diragukan lagi, Syamsuddin Tabriz yg telah kami jelaskan di bagian sebelumnya benar-benar murshid dari Maulana Rumi. Kini saatnya kita menengok serba ringkas sejarah kehidupan Maulana Rumi. Kebesaran Rumi tidak bisa disembunyikan. Sajak-sajak dan tarekatnya menarik banyak pengikut, bahkan tarekat diluar Tarekat Maulawiyyah juga menggunakan sama’ dan ritual tari berputar sebagaimana diajarkan oleh Rumi. Baca pos ini lebih lanjut

Saat Waktunya Sholat, Sholatlah

Bagi jamaah peserta kuliah, kita belajar meyakini, kalaulah sampe kita-kita ini bermasalah hidup di dunia ini, lalu masalah kita itu bisa mengantarkan kita menjadi mengingat Allah, ga apa-apa juga. Terlalu mahal tebusannya bila tiada dapat mengingat Allah, meskipun bergelimang harta dan bagus jabatan.

Boleh jadi di antara saudara yang melakukan ibadah-ibadah mengaku belum ada tanda-tanda masalahnya bisa selesai. Namun sesuatu yang pasti, ketenangan yang luar biasa, Allah akan berikan kepadanya. Ketika seseorang berhutang misalnya, bisa saja terjadi satu demi satu mereka yang ia punya hutang kepadanya, membaik dan menjadi kawan. Menagih tetap menagih. Insya Allah selalu ada saja kemudahan yang membuatnya masih terasa punya banyak waktu. Kita-kita ini harus yakin, pertolongan Allah bakal datang juga kepada kita. Baca pos ini lebih lanjut

Kegagalan Meraih Khusyu’

Selama ini, kita selalu berpendapat bahwa khusyu’ itu sangat sulit dicapai. Ketika shalat, pikiran sering pergi kemana-mana. Karena itu, lalu muncullah cara mengatasinya yaitu dengan konsentrasi. Konsentrasi pikiran seolah-olah telah menjadi kunci mencapai khusyu’. Maka tidak mengherankan jika pelajaran shalat khusyu’ pada umumnya tujukan untuk membantu mengarahkan konsentrasi pikiran, seperti misalnya melihat titik ditempat sujud, menerjemahkan bacaan, menghadirkan Allah, dan lain-lain. Baca pos ini lebih lanjut

Sejarah Tasawuf – 11

Ibn Arabi terkadang dianggap sebagai SUlthan Kaum Arifin, dan Maulana Rumi terkadang dianggap sebagai Sulthan Kaum Muhibbin, meski julukan ini sesungguhnya kurang tepat karena keduanya sama-sama arif billah dan sama-sama mencintai Tuhan (dan bahkan, dalam kenyataannya, Ibn Arabi juga mengajarkan ajaran Cinta dan Rahmat Allah yang tak terbatas). Tetapi gaya ungkap Rumi yg lebih puitis dan syair-syairnya yang mencapai 25,000 bait, membuatnya lebih dikenal sebagai Sufi-penyair pecinta Tuhan yang luar biasa. Baca pos ini lebih lanjut

Ubahlah Kehidupan Kita Bersama Allah

Apa-apa kalau sendirian, pasti susah. Dan apa-apa kalau dikerjakan secara tim, pasti lebih mudah. Apalagi Allah sebagai partner kita. Subhaanallaah.

Melanjutkan kajian esai Kuliah Tauhid terdahulu, di mana kemaren kita belajar tentang kisah perubahannya seorang sekuriti sebab ia ubah kebiasaannya beribadah dan menjalani sedikit ilmu yang didapatnya dengan keyakinan tinggi.

Maka bila diresapi bersama itu tulisan, seharusnya menginspirasikan satu hal buat kita. Bahwa setiap orang bisa berubah dengan mudah, asal dia tidak sendirian mengubah keadaan dirinya. Berubahlah bersama orang-orang yang positif, yang mampu bersama-sama menuju perubahan. Apalagi bila kita mau berubah bersama Allah. Baca pos ini lebih lanjut