Sejarah Tasawuf – 13


Pada masa yg hampir bersamaan, kawasan Andalusia, Konya, Baghdad, memunculkan tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh sampai zaman ini. Dan pada saat yang sama pula, di kawasan lain, yakni di Asia Tengah, muncul guru-guru yang meskipun kepopulerannya dibayang-bayangi oleh syekh2 agung lainnya, namun kontribusinya sangat besar pula bagi perkembangan tasawuf di kawasan lain. Sementara kawasan Timur Tengah dan Afrika dan sebagian Eropa tengah bergairah dengan ajaran-ajaran Syekh besar seperti Maulana Rumi, Syekh Akbar ibn Arabi, Hallaj, Robi’aj dan sebagainya, di sebuah kawasan yang agakjauh, tepatnya di Uzbekistan, muncul salah satu guru sufi besar, yang dijuluki Mata Air Tarekat Sufi Khawajagan (Guru-guru Sufi Asia Tengah), karena dari beliaulah benih-benih tarekat besar dari sana muncul. Beliau adalah Syekh Abdul Khaliq al-Gujdwani.

Syekh Khawajah Abdul Khaliq al-Ghujdwani lahir di Ghujadwan, Uzbekistan. Ayahnya adalah Syekh Abdul Jamil, salah satu ulama ternama di era Byzantium. Ibunya masih keturunan dari Sultan Seljuk Anatolia. Sejak kecil beliau mendapat pelajaran Tafsir al-Qur’an, ilmu hadis, bahasa Arab, dan fiqh dari Syekh Sadruddin. Setelah menguasai ilmu syariah, beliau kemudian mendalami Tasawuf dan bahkan beliau diajari langsung oleh Nabi Khidir as. Nabi Khidir memberinya ijazah (izin) yang diterimanya dari Rasulullah kepada Syekh Abdul Khaliq untuk mengamalkan zikir lisan dan hati dengan hitungan tertentu. Kemudian Nabi Khidir memerintahkannya untuk menyelam dalam air dan melakukan zikir membaca “La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah” dalam hati. Beliau melaksanakannya sampai mencapai kasyaf dan mendapat ilham Ilahi.

Ketika Ghauth al-Rabbani Syekh YUSUF HAMADANI berkunjung ke Bukhara, Syekh Abdul Khaliq menemuinya untuk melayaninya. Syekh Abdul Khaliq mengatakan, “Saat aku berumur 22 tahun, Syekh Yusuf memerintahkan Nabi Khidir untuk mendidikku dan mengawasiku sampai aku meninggal.” Beliau kemudian pindah ke Damaskus, dan mendirikan madrasah di sana. Reputasinya sebagai guru spiritual tersebar luas sehingga banyak sekali orang yang mendatanginya untuk berguru kepadanya. Beliau meninggal pada 12 Rabiul Awal 575 H. Syekh Abdul Khaliq memiliki empat khalifah utama, yakni Syekh Ahmad as-Sidiq, Syekh Kabir al-Awliya, Syekh Sulaiman al-Krimani, dan Syekh Arif ar-Riwakri. Kepada syekh keempat itulah Syekh Abdul Khaliq mewariskan rahasia silsilah tarekatnya.

Syekh AbdulKhaliq al-Ghujdwani dikenal terutama karena merumuskan delapan prinsip yang kelak menjadi sendi-sendi ajaran Tarekat Naqsyabandiyyah. Prinsip tersebut adalah: (1) husy dar dam [mengingat Allah dalam setiap tarikan nafasnya]; (2) nazar bar qadam [memerhatikan setiap langkah yang ditempuh, yakni setiap saat dirinya harus mengarah kepada Tuhan]; (3) safar dar watan [melakukan instropeksi, perjalanan ke dalam diri, yakni menelaah batinnya sendiri]’ (4) khalwat dar anjuman [sendiri dalam keramaian, yakni menyibukkan hati dengan Allah saat bergaul dengan banyak orang]; (5) yard kard [berzikir, yakni membaca kalimat tahlil, sedikitnya 5,000 kali atau 10,000 kali]; (6) baz gard [mengendalikan pikiran untuk selalu kembali kepada Allah]; (7) nigah dasht [mengawasi pikiran dan mencegahnya dari setiap penyimpangan dan kelalaian]; (8) yad dasyt [memuliakan Allah dalam ingatan, menghadirkan-Nya di dalam hati di setiap saat]. Dari sinilah tradisi zikir diam (khafi) bermula, dan kelak akan memperoleh bentuk finalnya melalui ajaran salah satu Wali Agung di dunia, Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi.

Syekh Bahauddin Naqsyabandi dianggap sebagai pendiri tarekat Naqsyabandiyyah karena beliaulah yang merumuskan untuk pertama kalinya sistematika zikir diam. Syekh Bahauddin Naqsyabandi memperoleh ijazah zikir khafi ini melalui modus barzakhi, sebab Syekh Bahauddin Naqsyabandi lahir setelah Syekh Abdul Khaliq meninggal, dengan jarak sekitar 100 tahun.

Khwajah Muhammad ibn Muhammad Bahauddin al-Uwaysi al-Bukhari al-Naqsyabandi lahir di desa Qasr al-Arifan, Bukhara pada 711 H atau 1317 M. Sejak kecil beliau telah menunjukkan banyak keajaiban. Saat masih muda beliau berguru kepada seorang Wali Allah terkemuka, yg juga murid dari Syekh Abdul Khaloq Gujdwani, yakni Maulana Syekh Muhammad Baba as-Samasi. Di sini beliau menjalani disiplin ruhani yang ketat. Menurut riwayat, setiap sujud terakhir dalam shalat Tahajud, beliau berdoa, “Ya Allah, berilah daku kekuatan untuk menanggung kesulitan dan kepedihan demi Cinta-Mu.” Namun Syekh Baba Samasi kemudian melarangnya dan menyuruhnya mengubah doanya menjadi “Ya Allah karuniakanlah ridho kepada hamba-Mu yang lemah ini.” Menurut Syekh Baba Samasi, Allah tidak menginginkan hamba-Nya meminta kesulitan. Walau Allah dengan Kebijaksanaan-Nya kadang memberi kesulitan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengujinya, namun hamba tidak boleh meminta kesulitan. Sebab hal itu menunjukkan adab yang tidak baik kepada Tuhan.

Setelah Syekh Baba Samasi wafat, Syekh Bahauddin berguru kepada Syekh Sayyid Amir Kulal. Beberapa guru lainnya yang disebutkan oleh beliau sendiri adalah Maulana Syekh Arif ad-Din Karani dan Maulana Kuthum. Beliau juga sering berziarah ke makam-makam Wali Allah.

Syekh Bahauddin mendapat bimbingan secara ruhaniah dari ruh Syekh ABDUL KHALIQ AL-GHUJDWANI, yang telah meninggal 100 tahun lebih sebelum kelahiran Syekh Bahauddin. Hubungan guru-murid di alam barzakh ini dalam tradisi tarekat dikenal sebagai hubungan Uwaisy – mengacu kepada sahabat Uwaysi yang tak pernah berjumpa secara fisik dengan Rasulullah SAW namun tetap mendapat bimbingan ajaran Islam dari Rasulullah SAW. Bahkan Syekh Bahauddin juga mengatakan bahwa dirinya juga menerima bimbingan khusus rahasia-rahasia spiritual dari ruh Uways al-Qarani. Menurut beliau sendiri, Syekh Uways inilah yang amat mempengaruhi dirinya untuk meninggalkan keduniawian dan menenggelamkan diri sepenuhnya dalam persoalan-persoalan keruhanian dan keahiratan.

Menjelang akhir masa hidupnya Maulana Syaikh Bahauddin lebih sering mengurung diri di kamarnya. Banyak orang yang datang mengunjungi Beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung ketika sakitnya makin parah. Saat ajal menjelang, beliau memerintahkan agar dibacakan Surah Yasin. Selesai dibacakan Surah Yasin beliau mengangkat tangan sambil membaca dua kalimat syahadat dan lantas wafat pada tanggal 3 Rabiul Awwal, 791 H/1388 M, pada hari Senin malam. Sesuai permintaannya beliau dimakamkan di taman miliknya. Mengenai kejadian ini seorang Wali Allah, Abdul Wahab asy-Syarani, berkata: “Ketika Syaikh dimakamkan, di makamnya terbukalah untuk beliau sebuah jendela ke surga, sehingga makamnya menjadi sebuah taman surga. Dua mahluk ruhani berpenampilan memesona datang dan memberi salam kepada Beliau sambil berkata “Kami telah menanti sekian lama untuk melayani Anda sejak Allah menciptakan kami dan sekarang waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani Anda.” Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband menjawab “Aku tidak butuh apapun selain Dia [Allah]. Aku tidak butuh kamu, aku butuh Dia.” Syekh Bahauddin meninggalkan banyak murid hebat, dan salah satu yang menonjol adalah Muhammad ibn Mahmud al-Hafizi, atau lebih dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis kitab Risalah al-Qudsiyya yang terkenal.

Syaikh Bahauddin Naqsyabandi membangun tarekatnya berdasarkan pengamalan al-Qur’an dan pengajaran Sunnah. Ketika orang-orang bertanya kepada beliau, “Apa persyaratan bagi yang ingin mengikuti tarekat anda?” Beliau menjawab, “Mengikuti Sunnah Rasulullah.” Beliau lalu melanjutkan, “Tarekat kami adalah sesuatu yang langka. Yang menjaga ‘Urwat ul-Wutsqa, ikatan yang tak terputuskan, dan tak meminta apapun dari pengikutnya melainkan untuk selalu memegang teguh Sunnah yang murni dari Rasulullah SAW dan mengikuti jalan para Sahabat dalam ijtihad mereka.”
Menurut Syekh Bahauddin Naqsyabandi, pencari Tuhan akan bisa mencapai pengetahuan ma’rifat melalui tiga cara – muraqaba (kontemplasi), mushahada (penyaksian, visi) dan muhasaba (menghisab diri sendiri).

Ajaran dasar Tarekat Naqsyabandiyyah adalah dari Syekh Ghujdwani. Dalam berzikir, Syekh Bahauddin lebih menekankan pada zikir diam atau dengan hati (khafi). Metode ini berasal dari ajaran Syekh Ghujdwani, bukan dari Syekh Amir Kulal yang mempraktikkan zikir keras (jahr). Dan menurut keterangan zikir diam ini bersumber dari pelajaran yang diterima oleh Sayyidina Abu Bakar dari Rasulullah saat bersembunyi di gua menghindari kejaran kaum kafir Qurays. Julukan Naqsyabandi didasarkan pada kaidah zikir ini. Makna naqsy adalah “menyembunyikan jejak,” “mengukir atau membuat kesan” atau “membuat cap”; sedangkan band berarti “menyegel kesan atau jejak kesempurnaan pada hati pencari kebenaran.” Dengan demikian dalam konteks zikir ini diartikan bahwa efek dari zikir asma Allah telah terukir dalam hati. Untuk mencapai kedalaman spiritual semacam ini dibutuhkan komitmen manusa untuk melestarikan zikir sebagaimana diajarkan oleh Syekh Abdul Khaliq Ghujdwani.

Syekh Bahauddin Naqsyabandi menambahkan 3 asas ruhani untuk delapan asas yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Khaliq Ghujdwani. Jadi selain delapan asas, yakni husy dar dam (sadar saat bernafas), nazhar bar qadam (menjaga langkah), safar dar wathan (perjalanan di tanah kelahiran), khalwat dar anjuman (sepi di tengah keramaian), yad krad (ingat atau menyebut), baz gasht (kembali atau memperbarui), nigah dast (waspada), dan yad dasyt (mengingat kembali), Syekh Bahauddin menambahkan wuquf zamani (memeriksa penggunaan waktu), wuquf adadi (memeriksa hitungan zikir) dan wuquf qalbi (menjaga hati). Wuquf zamani bermakna bahwa seseorang harus setiap saat mengawasi kecenderungan dirinya untuk lalai agar dapat mencegah kelalaian itu terjadi. Salik harus tahu berapa banyak waktu yang dipakai untuk menempuh jalan ruhani dan mengetahui maqamnya dalam perjalanan ke hadirat Ilahi. Pada akhirnya sang salik harus menghabiskan seluruh waktunya demi Allah semata dan menyadari bahwa Allah setiap saat dan selalu melihat apapun yang dilakukan dirinya baik itu yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Syekh Bahauddin menjelaskan bahwa salik harus menyadari dirinya setiap waktu. Jika ia mengikuti syariah, maka dia harus bersyukur, dan jika sebaliknya, ia harus terus memohon ampun. Singkatnya, kata Syekh Bahauddin, “Anda harus menilai bagaimana anda menghabiskan waktu anda; apakah anda mencurahkan waktu anda dalam keadaan selalu menyadari (ingat, zikir) kepada Allah, ataukah dalam keadaan lalai.”

Menurut asas wuquf adadi, salik yang berzikir harus menghitung jumlah bilangan penyebutan asma Allah di dalam hati. Penghitungan ini dimaksudkan untuk menjaga hati dan pikiran dari lintasan-lintasan pikiran atau bisikan nafsu,dan untuk lebih berkosnetrasi pada asma yang dizikirkan. Syekh Bahauddin menyatakan, “Menghitung jumlah zikir adalah langkah pertama untuk mendapatkan ilmu ladunni.” Sedangkan mengenai asas wuquf qalbi, maksudnya adalah demi mengarahkan hati salik ke hadirat Ilahi, di mana ia tidak akan mencari sesuatu selain Allah saja. Ini berarti mengalami tajalli-Nya dalam setiap keadaan. Zikir adalah untuk mengontrol hati dan pikiran dari turbulensi yang berkecamuk di dalam hati.

Secara garis besar ada dua macam zikir dalam tarekat Syekh Bahauddin, yakni zikir ism al-dzat, yakni mengingat asma Allah berulang-ulang dalam hati tanpa henti hingga efek dari asma itu tercetak dan tersegel dalam hati dan zikir tauhid yakni dengan kalimat laa ilaha illa Allah. Selain itu ada yang dinamakan zikir lathaif, yakni zikir pada lathifah (organ batin) manusia – lathifah al qalbi, lathifah ar-ruh, lathifah as-sirr, lathifah al-khafi, lathifah al-akhfa, lathifah al-nafsi al-nathiqah, dan lathifah kull al-jasad. Namun fungsi dan nama organ-organ ruhaniah ini kelak akan lebih gamblang dijelaskan oleh salah satu guru terkemuka dari tradisi Naqsyabandi, yakni Syekh Mujaddid alif tsani al Imam Rabbani Ahmad Sirhindi di India…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: